Karnaval atau Pawai “Nasi Adab” merupakan kegiatan rutin tahunan yang selalu digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Kotawaringin Barat di awal bulan Oktober setiap tahunnya. Karnaval ini diikuti peserta satuan organisasi perangkat daerah setempat, pemerintah desa dan kabupaten, BUMN, komunitas dan swasta serta pelajar tingkat dasar dan mahasiswa.

Kenapa dinamakan Nasi Adab? Sebab pada setiap peserta karnaval ini ornamen wajib yang harus dibawa adalah Nasi tumpeng berwarna kuning dan kembang serai, yakni sebuah kembang yang terbuat dari batang lidi yang dibalut kertas minyak, yang menurut keyakinan masyarakat setempat bahwa hal tersebut untuk keselamatan dan kesejahteraan bumi Marunting Batu Aji atau Kabupaten Kotawaringin Barat ini.

Pawai budaya Nasi Adab juga sebagai media pembelajaran untuk masyarakat terhadap budaya lokal. sebagai hiburan rakyat dan juga sebagai media untuk menanamkan kesadaran kepada masyarakat, khususnya kepada generasi muda untuk menjaga dan melestarikan budaya nasional maupun lokal.

Ritual adat Babarasih Banua atau dapat diartikan “Bersih Benua” rutin dilaksanakan masyarakat di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Tradisi ini merupakan wujud sikap berserah diri pada Tuhan, untuk keselamatan dan kesejahteraan daerah khususnya di wilayah Kecamatan Kumai, karena apapun yang terjadi di dunia ini sepenuhnya atas kuasa Tuhan Yang Maha Esa.
Ritual ini dipimpin oleh Demang dan tokoh adat yang diawali dengan menyusuri Sungai Kumai dengan membawa 7 buah balai (miniatur istana) ancak. Ancak yaitu tempat meletakkan 40 macam kue tradisional serta miniatur kapal yang diletakkan ayam hitam. Nantinya miniatur kapal ini akan dilepaskan ke muara sungai. Selain membawa membawa balai dan ancak, dalam prosesi ini juga dibawa seekor kambing warna hitam untuk dikorbankan.

Dalam perjalanan menuju lokasi tempat meletakkan balai dan ancak, beberapa pemusik dan penari di atas kapal melantunkan pantun diiringi musik dan menari tradisional yang biasanya disebut Batirik.