Coto Menggala adalah soto khas dari Pangkalan Bun. Soto ini terbuat dari bahan singkong atau ketela. Soto ini dinamakan soto menggala karena orang Pangkalan Bun menyebut singkong dengan nama menggala. Sebagai pengganti daging, makanan berkuah ini menggunakan kaki ayam atau ikan sungai sebagai lauk utamanya.

Coto menggala juga sempat mendapatkan rekor MURI pada tahun 2009 dan beberapa waktu yang lalu juga masuk dalam nominasi 3 besar makanan tradisional terpopuler dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API Award 2020). Bila anda berkunjung ke Kotawaringin Barat jangan lupa untuk mencicipi makanan unik khas Pangkalan Bun ini.

Ada yang belum pernah mendengar atau mencicipi kue ilat sapi??? Mungkin beberapa orang pastinya sudah tidak asing lagi dengan kue ilat sapi yang merupakan salah satu makanan khas tradisional yang ada di Pangkalan Bun. Ilat yang berarti lidah, meskipun memiliki arti lidah sapi namun kue ilat sapi sebenarnya berbahan utama tepung.

Penamaan ilat sapi diambil karena tampilan kue ini yang sekilas mirip dengan lidah sapi. Jajanan yang satu ini memilikki cita rasa yang manis, empuk dan lembut. Kue ilat sapi biasanya mempunyai 2 warna, ada yang berwarna putih dan ada juga yang berwarna kecoklatan tergantung penggunaan gula apa yang dipakai pada saat pembuatan kue ilat sapi.

Untuk mendapatkan hasil yang cantik dan juga mulas, biasanya pembuatan kue ilat sapi memakan waktu 2-3 hari, adonanan akan didiamkan selama 2-3 Hari setelah itu baru dicetak dan di oven. Selain menjadi camilan, sajian kue ini sering menjadi pilihan oleh-oleh bagi para wisatawan yang berkunjung.

Selain di toko oleh-oleh, kue ilat sapi biasanyan juga mudah kita jumpai di warung-warung kecil. Harga kue ilat sapi ini cukup terjangkau biasanya 1 pcs hanya Rp. 1000, cukup terjangkau bukan??? Yukkk coba dan cicipi jajanan tradisional yang satu ini tidak kalah rasanya dengan jajanan jaman sekarang.

Manis, kecil, dan legit… Untaian kata yang sepertinya cocok untuk menggambarkan salah satu jajanan tradisional Kotawaringin Barat bernama kue cincin ini asal mula dari penganan khas kerajaan banjar yang kemudian dibawa ke Kotawaringin Barat melalui kerajaan Kutaringin yang juga ada hubungan kekerabatan dengan kerajaan Banjar dari Kalimantan Selatan.

Dinamakan kue cincin dikarenakan mungkin adanya 4 lubang kecil ditengah – tengah yang menyerupai cincin. Kue cincin ini dibuat dengan bahan dasar tepung, pisang, dan gula. Kelihatannya mungkin mudah ya untuk bahan-bahannya, namun pisang yang digunakan untuk membuat kue cincin ini bukan sembarang pisang, melainkan jenis Pisang Makau yang sekarang ini sangat sulit untuk ditemukan. Kue cincin ini bisa bertahan selama 10 hari, namun jika penyimpanannya baik dan disimpan di kulkas biasanya bertahan lebih dari 10 hari. Oleh karena itu, kue ini sangat cocok untuk dijadikan oleh–oleh khas dari Pangkalan Bun.

Amplang adalah jenis kerupuk/makanan ringan khas dari daerah Kotawaringin Barat yang wajib di jadikan oleh-oleh bagi siapapun yang berkunjung di Kabupaten Kotawaringin Barat. Amplang adalah salah satu jenis jajanan yang dibuat dengan bahan utamanya yaitu ikan.

Ikan yang sering di gunakan untuk membuat amplang adalah ikan tenggiri. Dibuat dengan campuran tepung dan bumbu-bumbu dapur yang diadon menjadi satu lalu biasanya dibentuk kotak-kotak, bulat atau lonjong dan di goreng sampai keemasan. Bagi teman-teman yang ingin membeli produk amplang buatan masyarakat lokal ini, banyak tersedia di toko oleh-oleh atau di Bandara.